Judul: KECOA TERBANG
Tema: Kehidupan
Penulis: Ilham Labib M (IG: @ilhamlabibm)

KECOA TERBANG

Beberapa tahun yang lalu hiduplah seorang laki-laki bernama Abdul. Ia hidup sebatang kara dan kurang mampu. Hidup di tempat-tempat kumuh di sudut kota di bawah jembatan bagaikan seekor kecoa yang tidak memiliki lebar sayap untuk terbang. Kesehariannya adalah mencari sampah pelastik untuk dijual kembali kepada pengepul di daerah sekitar ia tinggal. Penghasilannya tidak seberapa, hanya 15 ribu perhari yang hanya cukup untuk makan sekali dalam sehari. Namun walau begitu, ia tetap bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepanya.

Ia memiliki cita-cita yang begitu tinggi, yaitu menjadi seorang pengusaha sukses. Ini didasarkan karena dahulu keluarganya adalah keluarga yang berkecukupan. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di bidang mabel. Dalam satu bulan, Ayahnya bisa menghasilkan uang lebih dari 100 juta. Semua kebutuhanpun bisa terpenuhi.

Namun nasib berkata lain, Ayahnya yang kala itu sedang pergi piknik ke luar negeri harus menerima kenyataan bahwa pesawatnya mengalami masalah dan jatuh di luasnya samudera. Lantas Ayahnya meninggal dunia, meninggalkan satu orang anak dan satu orang Isteri. Karena depresi yang sangat mendalam, isterinya pun ikut meninggal dunia karena tak kuat menerima kenyataan. Dan meninggalkan satu orang anak bernama Abdul.

Abdul tidak pernah menyangka kalau nasib keluaganya akan seperti ini. Baru ditinggal Ayahnya pergi untuk selamanya, tidak beberapa lama Ibu tercintanya pun menyusulnya. Kesedihan yang mendalam bagi seorang anak tunggal yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh kedua orang tuanya. Dan sekarang ia hidup sebatang kara. Namun begitu, Abdul tetap menjadi seorang yang sangat teguh. Ia tak pernah mengeluh dan selalu semangat menjalani kehidupan yang sebenarnya pahit.

Abdul memang memiliki cita-cita yang cukup tinggi, maka dari itu ia akan bertanggung jawab atas cita-citanya tersebut dan berusaha mewujudkannya. Setiap hari ia selalu menyisikan uang dari penghasilan kerjanya selama satu hari dalam sebuah kaleng kecil bekas biskuit yang ia temukan di sebuah tempat sampah. Ia mengharapkan bahwa uang yang ia simpan itu akan cukup digunakan untuk modal membuka usaha mabel seperti Almarhum Ayahnya dahulu. Ia yakin bisa mewujudkan mimpinya yang tinggi itu meskipun ia hanya seorang pemulung sampah.

Saat bekerja, di jalan sambil mencari tong sampah dibawah teriknya matahari yang begitu menyengat. Betapa terkejutnya ia menemukan sebuah dompet yang cukup tebal, lalu ia membuka dompet itu dengan perasaan was-was. Dan terkejutlah ia saat membuka dompet itu ternyata isinya adalah berlembar-lembar uang ratusan ribu disertai kartu kredit dan beberapa kartu identitas. Dengan perasaan senang dan bingung, ia lantas berfikir. Apakah ia harus mengambil uang dalam dompet itu untuk ditaruh dalam kaleng penyimpanan uangnya dan membuang dompet itu jauh-jauh, atau mengembalikan dompet itu kepada pemilikinya. Namun karena ia memiliki hati yang bersih dan jujur, akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan dompet yang ia temukan kepada pemiliknya. Lagi pula ia tahu dimana tempat tinggal pemilik dompet itu yang ia lihat dari identitas kartu dalam dompet tersebut.

Keesokan harinya ia menghampiri pemilik dompet itu yang jaraknya tidak jauh dari tempat ia tinggal. Beberapa lama kemudian ia sampai di depan rumah pemilik dompet itu, betapa terkejutnya ia melihat rumah yang begitu megah dan mewah. “Assalamualaikum,” kata Abdul sambil mengetuk pintu. Begitu lama ia menunggu, sampai tiga kali ia ketuk pintu namun tak dibukakan juga. Sampai ia hampir pergi, pintupun dibuka oleh pemilik rumah. “Waalaikumsalam, dek maaf tadi saya habis Sholat. Ada urusan apa ya dek?” kata pemilik rumah yang masih mengenakan sarung dan peci. “Apa benar bapak adalah pemilik dompet ini?” kata Abdul sambil memperlihatkan dompet yang ia temukan. “Wah iya bener dek, Alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Terimakasih banyak ya dek, ayo masuk dulu kita ngobrol-ngobrol sebentar” kata pemilik rumah sambil tersenyum dan senang. “Alhamdulillah pak saya ikut senang atas kembalinya dompet bapak” katanya sambil tersenyum. “Iya dek, saya aja gak nyangka dompet ini bisa kembali ke tangan saya. Isinya pun masih lengkap. Sangat jarang orang seperti anda yang rela mengembalikan dompet temuan kepada pemiliknya. Sekali lagi saya sangat berterimakasih ya dek” kata pemilik rumah sambil tersenyum gembira. “iya Pak sama-sama” kata Abdul. “Ngomong-ngomong adek ini Namanya siapa dan tinggal di mana?” kata pemiliki dompet. “Saya Abdul, pekerjaan saya pemulung. Saya tinggal di bawah jembatan yang tak jauh dari sini” kata Abdul. “Wah meskipun adek ini pemulung, tapi hati adek bagaikan seorang malaikat” kata pemilik dompet. “Hehe, makasih pak atas pujiannya. Kalo Bapak sendiri siapa?” kata Abdul sambil tersenyum. “Saya Ilham, pengusaha mabel. Sudah lebih dari 5 tahun saya menjalankan usaha” kata pemilik dompet. “Wah ternyata Bapak ini pengusaha mabel ya. Dahulu Almarhum Bapak saya juga seorang pengusaha mabel, tapi bangkrut karena tidak ada yang ngurusin lagi. Bapak meninggal di perjalanan pada saat piknik ke luar negeri, pesawatnya mengalamai kendala dan terjatuh di samudera. Selang beberapa hari, ibu menyusulnya karena depresi yang amat mendalam” kata Abdul sambil sedikit sedih. “Loh berarti dek Abdul sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi?” kata Ilham. “Iya pak benar, saya tidak punya siapa-siapa lagi. Dan sekarang saya hidup sebatangkara di bawah jembatan dan bekerja menjadi pemulung. Rumah orang tua saya dijual buat melunasi hutang-hutang” kata Abdul sambil sedikit sedih.

 Mendengar kisah yang diceritakan oleh Abdul, Pak Ilham langsung terenyuh hatinya dan berniat untuk menolong Abdul. “Ehm, ternyata cerita hidup Adek begitu menyedihkan. Kalo saya boleh tau, cita-cita adek ini apa?” kata Ilham. “Ya, begitulah takdir pak. Harus saya terima dengan keikhlasan. Saya berniat bercita-cita menjadi seorang pengusaha seperti Almarhum Bapak saya. Namun, saya tidak memiliki benyak modal untuk mewujudkannya” kata Abdul. “Begini aja dek, sebagai rasa terimakasih saya kepada Adek karena sudah berhasil menemukan dompet dan mengembalikannya kepada saya. Saya ingin memberikan sejumlah modal untuk Adek gunakan membuka usaha mabel yang adek cita-citakan” kata Ilham. “Wah Alhamdulillah Pak kalau begitu, saya tidak pernah menyangka jika ceritanya bakalan begini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih” kata Abdul sambil berwajah gembira. “Iya dek sama-sama, Adek juga kan sudah menemukan dompet saya. Kalau adek tidak menemukan dompet ini, mungkin saya tidak bisa apa-apa lagi, soalnya semua kartu-kartu penting saya ada dalam dompet itu. Saya harap adek bisa gunakan uang ini sebaik-baiknya dan semoga cita-cita adek bisa tercapai” kata Ilham. “Amin, saya akan gunakan uang ini sebaik-baiknya dan saya minta doanya supaya cita-cita saya dapat tercapai” kata Abdul.

Semenjak itu, Abdul langsung menggunakan uang pemberian pak Ilham untuk modal membuka usaha yang ia inginkan. Dengan pengalaman dari Almarhum Bapaknya, ia yakin bisa mewujudkan cita-citanya itu.

Lima tahun berlalu, Abdul yang sekarang telah menjadi pengusaha mabel yang sangat sukses. Hasil produksinya dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, tetapi hingga ke luar negeri. Kecoa yang sekarang sudah tumbuh dan memiliki sayap yang cukup untuk terbang. Sekarang ia memiliki dua rumah pribadi dan satu mobil mewah, dan itu semua atas kerja kerasnya yang ia lakukan. Selain itu, Abdul juga memiliki seorang Isteri dan dua orang anak. Mereka menjadi keluarga yang bahagia.

Saat itu Abdul bersama keluarga pergi ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan pokok. Tanpa direncanakan sebelumnya, di dalam minimarket Abdul bertemu dengan pak Ilham yang dulu pernah memberinya modal untuk membuka usaha. Kemudian, mereka saling bersapa dan bertanya-tanya tentang keadaannya sekarang. “Eh, ini pak Ilham ya?” kata Abdul sambil tersenyum. “Oh, iya saya Ilham, ini siapa ya?” kata Ilham. “Saya Abdul yang dulu pernah nemuin dompet bapak beberapa tahun yang lalu” kata Abdul. “Wah, Abdul ternyata. Sudah lama kita gak bertemu, sekarang gimana kabarnya nak Abdul?” kata Ilham sambil tersenyum. “Alhamdulillah pak, sekarang saya berhasil mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang pengusaha. Dan sekarang saya sudah tidak sendirian lagi, karena saya sudah memiliki sebuah keluarga” kata Abdul. “Alhamdulillah nak Abdul, saya senang mendengarnya, dengan usaha dan doa yang tidak pernah putus, semua pasti akan bisa terwujud” kata Ilham.

Itulah sedikit cerita tentang kehidupan. Tentang bagaimana kita mensyukuri atas apa yang telah kita miliki dan apa yang telah tuhan berikan. Selalu ada rasa ingin tolong-menolong diantara manusia, merupakan bentuk rasa saling menghargai kepada sesama. Jangan pernah menyerah atau mengeluh dengan kehidupanmu, tetap tabah dan tawakal. Usaha dan Doa adalah kunci utama.

Terimakasih, salam penulis