Blog si Pendiam

Minggu, 07 Januari 2018

Mimpi si Semut Merah (Cerpen)


Sebuah Cerpen berjudul "Mimpi Si Semut Merah"
Genre: Kehidupan

Di suatu rumah, hiduplah seekor semut bernama Andi. Ia merupakan jenis semut merah yang berukuran kecil dan suka memakan makanan manis, seperti gula. Andi lahir dari seorang ibu. Namun, ibunya sudah meninggal karena terinjak kaki dari penghuni rumah saat sedang mencari makan untuk Andi. Bapaknya pergi entah kemana, meninggalkan mereka berdua. Dan sekarang Andi hidup sendirian.

Meski begitu, tetapi Andi memiliki mimpi yang besar. Andi berkeinginan bisa terbang tinggi layaknya lalat ataupun burung sekalipun. berbagai macam usaha sudah Andi lakukan, namun belum menemukan cara yang tepat. Pernah Andi mencoba suatu cara yaitu meminta bantuan sang lalat yang saat itu sedang mencari makanan. Namun Andi malah ingin dimakan oleh sang lalat.

"werrrr errrr rrrrrrr" suara lalat sedang terbang.

"Wah asik banget bisa terbang seperti lalat. Kita bisa melihat apapun dari atas dengan jelas" ujar Andi yang saat itu sedang mencari makan bersama kawanan-kawanannya di lantai dapur sebuah rumah.
Beberapa saat kemudian, lalat turun ke lantai. Lantas Andi langsung meminta kepada lalat supaya ia diajak terbang.

"Wah, lalatnya turun. Siapa tau dia bisa bantu aku terbang" kata Andi sambil menghampiri si lalat.

"Eh eh jangan, nanti kamu bisa dimakan sama dia" kata semut lain sambil mencoba menghentikan si Andi.

"Ah kamu ini, kita kan sama-sama serangga. Ngapain harus takut" kata Andi.

Kemudian, Andi benar-benar menghampiri lalat dan meminta untuk diajak terbang keliling rumah.
Dengan penuh berani, Andi bertanya.

"Eh lalat, kamu bisa bawa aku terbang kaya kamu gak. bawa aku terbang mengelilingi rumah ini. Dari pada aku harus berjalan puluhan jam. Langkahku ini sangat kecil lalat?" kata Andi bertanya kepada lalat.

"Hah, siapa kamu?. Beraninya kamu menyuruhku untuk membawa kamu terbang. Kamu ini hanyalah semut kecil yang tak berdaya. Berbeda dengan aku yang bisa terbang kemanapun aku mau" kata lalat.

"Ayolah lalat, sebentar saja" kata Andi.

"Kamu mau pergi dari sini atau aku makan?" ujar lalat.

"Hah, jangan makan aku lalat, tidaaaaak" kata Andi sambil berlari menjauhi lalat.
Beruntung Andi bisa selamat dari kejadian itu.
"Hah hah hah, hampir saja aku dimakan lalat tadi. Untung aku bisa berlari dengan cepat" ujar Andi sambil beristirahat.

Usaha Andi untuk bisa terbang tidak putus sampai disini. Andi terus berusaha meminta bantuan kepada siapapun yang bisa terbang. Nyamuk, Kumbang, sampai Kupu-kupu. Namun mereka menolaknya dengan alasan jika mereka menerbangkan Andi, mereka takut semut-semut lain akan iri dan semua meminta diterbangkan. Sedangkan mereka tidak mungkin menerbangkan ribuan ekor semut. 
Saat itu Andi melihat seekor kupu-kupu berpijak di sebuah jendela rumah.

"Hey kupu-kupu bolehkah aku ikut terbang bersamamu?" kata Andi.

"Hey semut kenapa kamu ingin sekali terbang?" kata kupu-kupu.

"Aku hanya ingin terbang melihat sekeliling rumah ini dari atas" kata Andi.

"Aku tidak bisa semut, aku takut kawananmu akan iri dengan apa yang kamu lakukan" kata kupu-kupu.

"Tidak apa kupu-kupu. ini hanya sebentar" kata Andi.

"Aku tidak bisa semut. Aku pergi dulu" kata kupu-kupu.
Lalu, kupu-kupu meninggalkan Andi sendirian di dekat jendela. Kemudian ia berjalan menuju sarangnya sambil bermuka kecewa. 

Di depan pintu sarang. Ia berkata dari dalam hati.

"Ya Tuhan kenapa tidak ada yang mau mengajakku terbang. Aku hanya penasaran ingin melihat sekeliling rumah ini dari atas" kata Andi.

Tak lama, temannya datang menghampiri Andi yang saat itu sedang sedih.

"Hey Andi kamu kenapa disini?" kata temannya.

"Tak apa, aku hanya kecewa. Mengapa tidak ada yang mau mengajakku terbang. Aku sudah meminta bantuan kepada serangga yang bisa terbang. Tetapi mereka selalu menolaknya. Mengapa aku tidak ditakdirkan sebagai serangga yang memiliki sayap dan bisa terbang" kata Andi sambil bersedih.

"Ya ampun, kamu tidak boleh berkata seperti itu Andi. Kita harus bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Semua itu pasti ada hikmahnya, kita ditakdirkan sebagai semut pasti ada alasannya. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu tanpa adanya alasan. Apa yang bisa kita lakukan sebagai semut, belum tentu serangga lain bisa melakukannya" kata temannya saat itu.

"Kau memang benar teman, selama ini aku salah. Aku sangat memaksakan diriku untuk bisa terbang seperti serangga lain. Maafkan aku Tuhan" kata Andi sambil menyesal.

Semenjak itu, Andi mulai bisa mensyukuri apa yang telah tuhan berikan. Ternyata selama ini ia salah. Ia terlalu memaksakan diri untuk bisa melakukan apa yang serangga lain lakukan. 

Sekarang ia sudah tidak pernah lagi berniat untuk bisa terbang. Ia justru banyak melakukan hal yang bisa ia lakukan. Seperti membuat sarang yang bagus, sampai ikutan lomba lari versi semut. Dan sekarang ia menjadi semut yang mandiri dan kreatif.
TAMAT.

Terimkasih semoga berkenan. 

Mohon maaf jika ada salah penulisan kata.
*Jangan lupa untuk share dan komen
Share:

Sample Text

Copyright © Ilham Labib M | Powered by Blogger Distributed By Protemplateslab & Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com